JANGAN SEPELEKAN NYERI KAKI SAAT BERISTIRAHAT!

Ditulis oleh: pada tanggal Artikel, Informasi Penyakit, Umum

nyeri-kaki-saat-istirahat

Nyeri pada kaki saat beraktivitas atau biasa disebut dengan claudication intermitten merupakan suatu keadaan critical limb ischemia (CLI) yaitu penyumbatan pada pembuluh darah arteri sehingga terjadi pengurangan aliran darah ke anggota gerak terutama ke kaki dan menyebabkan nyeri yang hebat. Nyeri yang ditimbulkan CLI bahkan bisa membuat Anda terbangun saat malam hari saat anda beristirahat. CLI dapat berkurang sementara dengan menggantungkan kaki di tempat tidur maupun dibawa berjalan. CLI merupakan kondisi yang parah dari penyakit arteri perifer atau peripheral artery disease (PAD) yang memerlukan penatalaksanaan yang tepat.1


Gambar 1. Kaki penderita CLI

Siapa saja yang berisiko terkena CLI?

  • Laki-laki berusia > 60 tahun dan perempuan yang telah menopause.
  • Perokok
  • Penderita diabetes mellitus
  • Overweight atau obesitas
  • Kolesterol tinggi
  • Tekanan darah tinggi1

Apa gejala dan tanda Anda terkena CLI?

Pada kebanyakan penderita CLI tidak merasakan gejala apapun. Akan tetapi, lama kelamaan akan menimbulkan nyeri kaki saat aktivitas (claudication intermitten). Bila penyakit berlanjut akan menyebabkan nyeri saat istirahat bahkan dapat timbul luka yang sulit sembuh. 2

Bagaimana penatalaksanaan CLI?

CLI merupakan kondisi yang serius yang memerlukan perawatan segera untuk melancarkan kembali aliran darah yang tersumbat. Kebanyakan pasien CLI mempunyai beberapa penyumbatan pada pembuluh darah arteri. Pengobatan CLI bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri pada kaki dan meningkatkan aliran darah untuk pencegahan amputasi. Berikut pengobatan yang dilakukan pada pasien CLI:

  1. Diet dan Gaya hidup sehat

    Tidak merokok, mengurangi makanan berkolesterol tinggi, dan gaya hidup aktif dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi gejala CLI.3

  2. Terapi obat-obatan

    Obat-obatan terutama ditujukan untuk mengatasi faktor risiko CLI seperti hipertensi, kencing manis, dan kolesterol. Pada beberapa pasien memerlukan pemberian obat pengencer darah (seperti aspirin dan clopidogrel), dan beberapa lainnya memerlukan obat anti penggumpalan darah. Beberapa obat lain kadang digunakan untuk meningkatkan aliran darah ke tungkai sesuai indikasi medis.

  3. Terapi intervensi

    CLI terjadi ketika perfusi dari pembuluh darah arteri berkurang di bawah normal sehingga menghasilkan nyeri pada saat istirahat maupun kerusakan jaringan di ekstremitas bawah.

    Hal ini terkait dengan tingginya morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Apabila tidak dilakukan revaskularisasi segera, CLI dapat mengakibatkan kehilangan anggota tubuh (karena diamputasi) bahkan dapat menyebabkan kematian. Percutaneous Transluminal Angioplasty (PTA) telah terbukti efektif dan aman sebagai terapi CLI, dengan tingkat penyelamatan tungkai lebih baik daripada dilakukan operasi. Apabila terapi PTA gagal maka dapat diindikasikan untuk pemasangan stent. 5 Terapi ini paling direkomendasikan, berikut adalah gambaran sebelum dan sesudah terapi revaskularisasi endovaskular.






Gambar 2. Pembuluh darah pada tungkai sebelum (a) dan sesudah(b) terapi revaskularisasi endovaskular.

4. Operasi

Pembedahan untuk melancarkan aliran darah dilakukan untuk pasien dengan lesi yang kompleks yang tidak setuju untuk terapi intervensi di atas, dan untuk pasien yang berumur lebih muda yang membutuhkan revaskularisasi yang lebih tahan lama. 

5. Terapi lainnya

Terapi hiperbarik dan stimulasi saraf spinal dapat dilakukan namun masih dalam penelitian lebih lanjut.3

    Divisi Kardiologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo Jakarta telah berpengalaman melakukan terapi invasif minimal non bedah untuk kasus-kasus pembuluh darah tungkai. Tindakan ini sudah berhasil dikerjakan sejak tahun 2006 dan merupakan salah satu pioneer terapi invasif minimal untuk pembuluh darah non koroner di Indonesia.

Apakah CLI bisa dicegah?

CLI dapat dicegah dengan cara berikut ini:

  1. Tidak merokok atau berhenti merokok.
  2. Olahraga teratur dan menghindari gaya hidup sedentari
  3. Mengurangi makanan berlemak sehingga kadar LDL kolesterol bisa lebih rendah dari 100 mg/dl atau bahkan 70 mg/dl.
  4. Mengurangi makan makanan manis untuk menghindari diabetes.
  5. Mengurangi asupan garam untuk mencegah hipertensi.
  6. Untuk penderita diabetes maka HbA1C ditargetkan <7% untuk mencegah terjadinya CLI.7

Referensi:

  1. Varu VN, Hogg ME, Kibbe MR. Critical limb ischemia. Journal of Vascular Surgery 2009; 51; 1; p: 230-240.
  2. Schanzer A, Conte MS. Critical limb ischemia. Current Treatment Options in Cardiovascular Medicine 2010; 12; p: 214-229.
  3. Arain SA, White CJ. Endovascular theraphy for critical limb ischemia. Journal of Vascular Medicine 2008; 13; p: 267-279.
  4. Yamada T, Onishi K, Utsunomiya M, Nakamura M. Clinical study: our treatment strategy for critical limb ischemia. International Journal of Vascular Medicine 2013; p: 1-5.
  5. Slovut DP, Sullivan TM. Critical limb ischemia: medical and surgical management. Journal of Vascular Medicine 2008; 13; p: 281-291.
  6. Minar E. Critical Limb Ischemia. Hamostaseologie 2009;1; p: 102-108.
Topics: , , ,

Posted: July 13, 2016 at 9:59 am, Last Updated: July 14, 2016 at 6:16 am

  • Hubungi Kami
    admin@kardioipdrscm.com
    Telp. +62 (21) 31934636
    Fax.
    +62 (21) 3161467
    Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta 10430