Symposium 6: Update Management of Atrial Fibrillation

Ditulis oleh: pada tanggal Hopecardis 2016

Symposium 6: Update Management of Atrial Fibrillation

 

Atrial Fibrillasi (AF) merupakan kelainan irama jantung yang penting untuk dibahas karena sangat berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular lainnya seperti heart failure dan stroke. Sesi Simposium 6 yang mengusung tema “Update Management of Atrial Fibrillation” ini dimoderatori oleh Prof dr Bambang Irawan Martohusodo, SpPD-KKV, SpJP (K), FIHA. Sesi ini dimulai dengan presentasi dari dr. Ryan Ranitya, Sp.PD-KKV, FINASIM dengan judul “Slowing the Racing Heart: First Step for Newly Detected Atrial Fibrillation“. dr. Ryan Ranitya mengawali presentasi dengan memaparkan evidence-based terbaru yang menyebutkan bahwa rate control tidak lebih inferior dibandingkan rhytm control. Berbagai macam agen untuk rate control juga dijelaskan mulai dari dosis hingga kontraindikasinya dalam presentasi ini. dr. Ryan Ranitya juga menjelaskan secara detail pemilihan agen untuk rate control berdasarkan rekomendasi terbaru dan penatalaksanaan atrial fibrilasi pada keadaan-keadaan tertentu seperti Acute Coronary Syndrome, Pulmonary Disease, WPW dan sindrom pre-eksitasi serta heart failure.

 

Presentasi dilanjutkan oleh dr. Simon Salim, MKes, SpPD, AIFO, FACP, FINASIM, FICA dengan judul “Return to Synus Rhytm : for Who and How“. dr. Simon mengawali presentasi dengan memaparkan pentingnya pembahasan mengenai atrial fibrilasi yang prevalensinya meningkat seiring usia dan meningkatkan risiko stroke hingga 7 kali lipat. Oleh karena itu, jika kita menemui kasus atrial fibrilasi, kita juga wajib berfikir tentang stroke. Selain itu, dr. Simon Salim juga menjelaskan mekanisme atrial fibrilasi menyebabkan heart failure dan sebaliknya sehingga akan menjadi lingkaran setan. Sebelum menjelaskan mengenai pentingnya ryhtm control, dr. Simon menekankan kembali paparan dr. Ryan Ryanita bahwa rate control tidak lebih inferior dibanding dengan rhytm control dan masih menjadi initial strategy. Namun, rhytm control bermanfaat pada kondisi-kondisi tertentu. dr. Simon Salim pun menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan rate control ataupun rhytm control berdasarkan Guideline dari Canadian Cardiovascular Society. Dalam sesi ini, dr. Simon Salim juga menjelaskan pemilihan obat-obatan rhytm control berdasarkan AHA/ACC/ESC Guideline 2011. Dalam rekomendasi tersebut, amiodarone bukan pilihan lini pertama namun sampai sekarang masih menjadi primadona di Indonesia. Penggunaan kardioversi elektrik berdasarkan rekomendasi AHA/ACC/ESC Guideline 2011 juga dibahas dalam sesi ini. Namun, kedua modalitas itu masih terdapat kekurangan. Dari seluruh pasien yang mendapatkan satu kali kardioversi, hanya kurang dari 1/4nya yang bebas AF dalam 1 tahun. Bahkan, setelah mendapatkan kombinasi dengan obat anti aritmia pun, pasien yang bebas AF dalam 1 tahun masih kurang dari 50%. Oleh karena itu, sesi ini juga membahas sebuah modalitas baru yaitu catheter ablation yang bisa menjadi pilihan pertama pada kondisi tertentu. Berkebalikan dengan modalitas sebelumnya, rekurensi AF dalam 5 tahun pada pasien yang mendapatkan catheter ablation cukup rendah yaitu 25%. Selain itu, catheter ablation juga menurunkan LV volume sehingga bisa bermanfaat untuk reverse remodelling otot jantung. Modalitas ini juga lebih cost effective dibandingkan dengan terapi farmakologis dan kardioversi elektrik.

 

Sebuah video animasi menarik mengenai hubungan antara atrial fibrilasi dan stroke mengawali presentasi yang berjudul “Anticoagulant therapy in Atrial Fibrillation” oleh dr. Edwin Setiabudi. Setelah memutar video tersebut, dr. Edwin Setiabudi, SpPD-KKV, FINASIM memaparkan sebuah contoh kasus. dr. Edwin menjelaskan terlebih dahulu algoritma terapi antikoagulan oral pada kasus atrial fibrilasi berdasarkan ESC Guideline 2012 kemudian memberikan contoh penerapan guideline tersebut pada contoh kasus. Pengontrolan terapi oral antikoagulan warfarin juga dibahas dalam sesi ini.

 

Sesi tanya jawab dalam simposium 6 ini sangat menarik. Peserta simposium mendiskusikan penggunaan selective betablocker pada pasien dengan penyakit pulmoner obstruktif, penggunaan warfarin pada kasus atrial fibrilasi dengan stroke hemorrhagic, dan berkembang hingga diskusi mengenai peran pharmacogenetic dalam penggunaan warfarin.

Posted: April 2, 2016 at 11:10 am

  • Hubungi Kami
    admin@kardioipdrscm.com
    Telp. +62 (21) 31934636
    Fax.
    +62 (21) 3161467
    Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta 10430