Sering Berburu Tiket Pesawat Murah? Penyakit Ini Akan Mengintaimu dan Dapat Berujung Kematian Jika Duduk Dengan Kaki Tertekuk Dalam Jangka Lama!

Ditulis oleh: pada tanggal Artikel, Informasi Penyakit, Umum

sindrom-kelas-ekonomi-dvt-penyakit-jantung
 

Saat ini, banyak muncul maskapai penerbangan yang menawarkan tiket murah. Hal ini memberikan peluang ke lebih banyak orang untuk melakukan perjalanan panjang ke luar negeri. Namun, ada penyakit yang mengintai Anda saat berada di dalam pesawat kelas ekonomi apabila mendapatkan tempat duduk yang sempit atau jangka waktu penerbangan yang lama.

 

Duduk dalam jangka waktu yang lama di dalam penerbangan akan meningkatkan risiko terjadinya trombosis vena dalam. Hommans dalam Gispert et al (1) melaporkan bahwa kejadian trombosis dalam penerbangan pertama kali ditemukan pada tahun 1946 pada penumpang yang melakukan penerbangan non stop 14 jam. Fenomena terjadinya trombosis vena dalam saat berada dalam penerbangan ini disebut sindrom kelas ekonomi karena sering terjadi pada penerbangan kelas ekonomi dengan tempat duduk yang lebih sempit dibanding penerbangan standar.(2)

 

Apakah Trombosis Vena Dalam / Deep Vein Thrombosis (DVT) Itu?

Trombosis vena dalam / Deep Vein Thrombosis (DVT) adalah terbentuknya bekuan darah (trombus) di dalam pembuluh darah balik / vena bagian dalam. Menurut Virchow, proses terjadinya trombosis vena dalam ini dapat terjadi melalui 3 perubahan yang terjadi di dalam sistem pembuluh darah vena, yaitu gangguan pada dinding pembuluh darah, gangguan pada pola aliran darah, dan gangguan yang menyebabkan darah cenderung lebih mudah menggumpal. Suatu kondisi, penyakit, tindakan medis, maupun pengobatan yang menyebabkan ketiga gangguan tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya bekuan darah di pembuluh darah vena. Bekuan darah tersebut dapat terjadi di semua pembuluh darah vena bagian dalam namun paling sering terjadi pada pembulub darah vena bagian dalam di daerah tungkai.

Bahaya dan Komplikasi Penyakit DVT

Trombosis vena dalam ini berbahaya karena menimbulkan komplikasi yang dapat berujung kematian. Trombus di dalam pembuluh darah balik tersebut bisa lepas dan menjalar ke tempat yang lain. Trombus yang lepas tersebut bisa terbawa aliran darah ke paru-paru dan menyumbat pembuluh darah di paru-paru. Hal ini dapat menurunkan kadar oksigen yang akan diedarkan ke seluruh tubuh sehingga dapat mengancam jiwa. Keadaan ini disebut dengan emboli paru, komplikasi trombosis vena dalam yang paling banyak mengakibatkan kematian. Selain menyebabkan komplikasi berupa emboli paru yang mematikan, trombus yang lepas juga dapat terbawa ke tempat lain seperti pembuluh darah di otak dan pembuluh darah koroner. Oleh karena itu, pasien yang mengalami trombosis vena dalam berisiko 60% lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung dan risiko stroke meningkat hingga lebih dari dua kali lipat.( 3)

 

Apa Gejala dan Tanda Penyakit DVT?

Penderita trombosis vena dalam dapat mengalami gejala dan tanda klasik meliputi pembengkakan pada salah satu tungkai disertai kemerahan, nyeri dan rasa hangat namun denyut pembuluh darah arteri masih dapat teraba. Sayangnya, lebih dari 50% penderita trombosis vena dalam tidak merasakan gejala spesifik yang ada di tungkai tersebut. Bahkan, sebagian besar penderita baru datang ke rumah sakit ketika sudah terjadi komplikasi sehingga diperlukan tindakan pencegahan, deteksi dini, dan penanganan segera (4)

 

Bagaimana Duduk Diam Dengan Kaki Tertekuk Dalam Waktu Lama Bisa Meningkatkan Risiko DVT?

Kurangnya ruang gerak pada penerbangan kelas ekonomi sering dikaitkan sebagai penyebab terjadinya trombosis vena dalam. Keterbatasan ruang gerak tersebut menyebabkan penumpang duduk diam dengan kaki tertekuk dalam waktu yang lama. Duduk diam dengan kaki tertekuk dalam waktu yang lama meningkatkan risiko terjadinya gumpalan darah karena menyebabkan perubahan aliran darah di dalam pembuluh darah balik. Agar terjadi aliran darah yang normal di dalam pembuluh darah balik, diperlukan kontraksi otot yang ritmis. Duduk diam dalam jangka waktu lama akan mengganggu mekanisme tersebut. Selain itu, faktor jenis alat transportasi juga berpengaruh terhadap terjadinya DVT. Setiap duduk diam dua jam di dalam perjalanan, risiko terjadinya gumpalan darah meningkat 18% jika menggunakan alat transportasi darat dan 26% jika menggunakan alat transportasi udara. Risiko terjadinya gumpalan darah saat duduk diam di dalam pesawat udara lebih tinggi dibanding perjalanan darat karena pengaruh rendahnya tekanan udara dalam kabin.(5)

 

Siapa saja yang berisiko terkena trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis)?

Beberapa keadaan lebih berrisiko untuk terjadi trombosis vena dalam, meliputi:

1. Orang yang memiliki riwayat penyakit kanker

2. Orang yang memiliki penyakit yang membuat darah lebih mudah menggumpal

3. Orang yang memiliki riwayat operasi

4. Orang yang mengkonsumsi pil kontrasepsi

5. Ibu hamil

6. Obesitas

7. Penumpang yang duduk di tempat duduk dekat jendela lebih berisiko dibandingkan dengan penumpang yang duduk di lorong.

 

American College of Chest Physician merekomendasikan kepada penumpang yang memiliki faktor risiko di atas agar menggunakan stocking khusus untuk menghindari trombosis vena dalam. Selain itu, penumpang dengan risiko tinggi juga bisa mendapatkan resep aspirin.(6)

 

Anda dapat mencegah sindrom kelas ekonomi dengan banyak minum dan memilih tempat duduk dekat lorong agar Anda bisa lebih mudah bergerak. Sering-seringlah berdiri dari tempat duduk dan berjalan di sekitar lorong. Jika sulit untuk berjalan, Anda dapat melakukan gerakan untuk meregangkan otot kaki dan betis. Letakkan telapak kaki di atas lantai, kemudian angkat jari kaki Anda setinggi mungkin dengan telapak kaki bagian belakang tetap menyentuh lantai. Letakkan kembali jari kaki Anda kemudian perlahan naikkan lutut Anda dengan jari kaki tetap menyentuh lantai. Lakukan gerakan-gerakan ini untuk menghindari inaktif terlalu lama di dalam perjalanan.


Berikut ini adalah ilustrasi gerakan sederhana yang bisa Anda lakukan di kursi untuk mencegah trombosis vena dalam saat penerbangan dalam jangka waktu lama.(7)

 

Referensi:

 


1. Gispert P, Drobnic ME, Vidal R. [Economy-class syndrome or Immobile Traveler’s syndrome?]. Archivos de bronconeumologia. 2006;42(7):373-5.

2.    Cruickshank JM, Gorlin R, Jennett B. Air travel and thrombotic episodes: the economy class syndrome. Lancet. 1988;2(8609):497-8.

3.    Sorensen HT, Horvath-Puho E, Pedersen L, Baron JA, Prandoni P. Venous thromboembolism and subsequent hospitalisation due to acute arterial cardiovascular events: a 20-year cohort study. Lancet. 2007;370(9601):1773-9.

4.    Blann AD, Lip GY. Venous thromboembolism. Bmj. 2006;332(7535):215-9.

5.    Chandra D, Parisini E, Mozaffarian D. Meta-analysis: travel and risk for venous thromboembolism. Annals of internal medicine. 2009;151(3):180-90.

6.    Bates SM, Jaeschke R, Stevens SM, Goodacre S, Wells PS, Stevenson MD, et al. Diagnosis of DVT: Antithrombotic Therapy and Prevention of Thrombosis, 9th ed: American College of Chest Physicians Evidence-Based Clinical Practice Guidelines. Chest. 2012;141(2 Suppl):e351S-418S.

7.    Goren G. Leg Veins blood clots after long-haul flights:

The “Economy/coach Class Syndrome” 2013 [updated 29 May 2013; cited 2016 09 March 2016]. Available from: http://www.gorenveincenter.com/leg-veins-blood-clots-after-long-haul-flights-the-economycoach-class-syndrome-and-their-prevention/.

 

Posted: March 23, 2016 at 5:55 am, Last Updated: March 28, 2016 at 11:07 am

  • Hubungi Kami
    admin@kardioipdrscm.com
    Telp. +62 (21) 31934636
    Fax.
    +62 (21) 3161467
    Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta 10430