Deretan Kematian Mendadak Setelah Olahraga! Apakah Olahraga Picu Serangan Henti Jantung?

Ditulis oleh: pada tanggal Aktivitas FIsik, Artikel, Jantung Sehat, Preventive Cardiology, Umum

Deretan Kematian Mendadak Setelah Olahraga! Apakah Olahraga Picu Serangan Henti Jantung?

Olahraga yang teratur memberikan banyak manfaat untuk menjaga kesehatan. Namun, mengapa justru sering kita dengar kabar mengenai banyak orang yang meninggal setelah berolahraga? Berita mengenai Adjie Massaid, Benyamin S dan Burhanuddin Napitupulu yang meninggal sesaat setelah berolahraga tentu tidak asing ditelinga kita. Bahkan, atlet yang rutin melakukan latihan dan pertandingan olahraga pun juga tidak terlepas dari risiko kematian mendadak saat di lapangan. Mulai dari Thomas Blackstock, Marcio Santos, Marc-Vivien Foe, Miklos Feher, Antonio Puerta, dan Eri Irianto telah mengisi deretan atlet yang meninggal karena “serangan jantung” saat pertandingan olahraga. Kejadian kematain mendadak itu pun terjadi di usia yang tergolong masih muda. Apakah olahraga meningkatkan risiko kematian mendadak?

 

Kematian jantung mendadak vs Serangan Jantung, Apa bedanya?

Ketika Anda mendengar tentang seseorang yang masih muda meninggal mendadak saat berolahraga, Anda mungkin berpikir itu adalah “serangan jantung”. Beragam berita pun memberikan informasi bahwa kematian tersebut disebabkan karena “serangan jantung”. Kematian jantung mendadak atau yang sering disebut dengan serangan henti jantung berbeda dengan serangan jantung.

 

Serangan jantung biasa disebabkan karena masalah pada pada peredaran darah di dalam pembuluh darah di jantung. Serangan ini terjadi karena adanya penyumbatan mendadak di dalam pembuluh darah koroner sehingga aliran darah ke otot jantung menjadi terhambat dan akhirnya merusak otot jantung.

 

Kematian jantung mendadak atau serangan henti jantung merupakan masalah yang disebabkan karena gangguan aliran listrik di jantung. Aliran listrik ini bertugas mengendalikan kemampuan jantung dalam memompa darah. Jika terjadi gangguan aliran listrik, jantung yang seharusnya memompa dengan terkoordinasi, bisa berdetak menjadi sangat cepat dan tidak teratur. Detak yang tidak teratur ini justru membuat jantung tidak bisa memompa darah sehingga aliran darah ke seluruh tubuh bisa terhenti. Seseorang yang terkena serangan henti jantung akan tiba-tiba kehilangan kesadaran, tanpa nadi, tanpa nafas. Tanpa pertolongan yang segera, individu tersebut bisa meninggal dalam beberapa menit. Oleh karena itu, peristawa ini disebut juga kematian jantung mendadak.

 

Meskipun serangan jantung dan serangan henti jantung berbeda, keduanya bisa berhubungan. Serangan jantung yang menyebabkan kerusakan otot jantung juga dapat memicu kerusakan listrik jantung. Gangguan kelistrikan jantung ini yang akan menyebabkan terjadinya serangan henti jantung.

 

Apa penyebab kematian mendadak saat olahraga?
Pada usia muda di bawah 35 tahun, penyebab kematian mendadak saat olahraga disebabkan karena adanya hypertrophic cardiomyopathy, suatu penyakit genetik yang menyebabkan terjadinya penebalan tidak normal otot-otot jantung(1). Empat belas dari 29 atlet muda yang mengalami serangan henti jantung, menderita hypertrophic cardiomyopathy.Selain itu, penyebab serangan henti jantung pada atlet muda juga banyak disebabkan karena penyakit kongenital yang lain seperti anomali pembuluh darah koroner, sindrom marfan, dan gangguan katup jantung. Berbeda dengan penyebab kematian mendadak pada atlet berusia lebih dari 35 tahun yang didominasi karena penyakit jantung koroner. Dari 29 atlet muda yang terkena kematian jantung mendadak, hanya 3 orang yang mengalami sumbatan pembuluh darah koroner karena atherosclerosis. Oleh karena itu, sangat penting bagi seseorang yang ingin melakukan olahraga dengan intensitas tinggi untuk menjalani tes kesehatan terlebih dahulu.

 

Apakah olahraga meningkatkan risiko serangan henti jantung?

Sebuah penelitian kohort retrospektif yang melakukan interview terhadap istri dari orang yang mengalami serangan henti jantung yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit jantung membuktikan bahwa olahraga yang rutin justru menurunkan risiko kematian jantung mendadak.(2) Pada individu sehat yang jarang berolahraga, risiko terjadinya kematian jantung mendadak saat olahraga 56 kali lipat lebih sering dibandingkan dengan kematian jantung mendadak saat aktivitas lain. Sedangkan, pada individu sehat yang rutin berolahraga, risiko terjadinya kematian jantung mendadak saat olahraga hanya 5 kali lebih sering dibandingkan dengan kematian jantung mendadak saat aktivitas lain. Namun, secara keseluruhan, individu sehat yang rutin berolahraga memiliki risiko 40% lebih rendah untuk mengalami kematian jantung mendadak dibandingkan dengan individu sehat yang jarang berolahraga. Olahraga intensitas ringan hingga sedang yang rutin juga memiliki banyak manfaat lain untuk kesehatan jantung. Bahkan, pada individu yang pernah mengalami serangan jantung, olahraga rutin yang tepat juga dapat menurunkan risiko serangan jantung berulang.

 

Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko kematian akibat serangan henti jantung?

Serangan henti jantung dapat menyebabkan kematian dalam hitungan menit. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risiko serangan henti jantung saat olahraga.

  1. Jika Anda termasuk individu yang jarang berolahraga, olahraga rutin dapat dimulai dengan memulai gaya hidup aktif. Anda bisa memulai dengan cara memperbanyak berjalan kaki dengan target 10000 langkah perhari. Anda dapat memulai dari hal yang paling mudah seperti meletakkan kendaraan di tempat parkir yang lebih jauh dari biasanya atau memilih menggunakan tangga dibandingkan lift. Perubahan menuju sepuluh ribu langkah perhari dapat dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan terus menerus dan bertahap. Setelah itu, Anda bisa menaikkan target Anda agar lebih fit dengan melakukan olahraga terprogram dengan intensitas ringan hingga sedang minimal 150 menit perminggu atau intensitas tinggi minimal 75 menit perminggu.
  2. Jika Anda termasuk individu yang jarang berolahraga namun ingin mengikuti olahraga yang kompetitif, lakukan tes kesehatan terlebih dahulu.
  3. Jika Anda termasuk individu yang sudah rutin berolahraga, pertahankan kebiasaan berolahraga dengan intensitas ringan hingga sedang.
  4. Bekali diri Anda dengan kemampuan Basic Cardiac Life Support agar bisa membantu orang disekitar Anda jika sewaktu-waktu terjadi kejadian serangan henti jantung
  5. Perlunya ketersediaan alat defibrilator otomatis di ruang publik yang berisiko terjadi serangan henti jantung agar bisa memberikan pertolongan kepada serangan henti jantung dengan cepat.

 

Referensi

  1. Maron BJ, Epstein SE, Roberts WC. Causes of sudden death in competitive athletes. Journal of the American College of Cardiology. 1986;7(1):204-14.
  2. Siscovick DS, Weiss NS, Fletcher RH, Lasky T. The incidence of primary cardiac arrest during vigorous exercise. The New England journal of medicine. 1984;311(14):874-7.

 

Topics: , , ,

Posted: November 13, 2015 at 4:50 pm, Last Updated: January 19, 2016 at 11:58 am

  • Hubungi Kami
    admin@kardioipdrscm.com
    Telp. +62 (21) 31934636
    Fax.
    +62 (21) 3161467
    Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta 10430