Round Table Discussion Efektivitas Klinis Terapi Hipertensi dengan Kombinasi Amlodipin-Valsartan

Ditulis oleh: pada tanggal Berita dan Informasi

Round Table Discussion Efektivitas Klinis Terapi Hipertensi dengan Kombinasi Amlodipin-Valsartan

 

“Hipertensi merupakan suatu kondisi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Meski demikian, neurologi, kardiologi, serta ginjal-hipertensi adalah 3 pilar utama yang paling sering menjadi target utama kerusakan akibat hipertensi.” Begitulah kira-kira cuplikan kalimat pembuka yang disampaikan oleh moderator round table discussion (RTD) The Clinical Effectiveness of Real World Experience on Valsartan/Amlodipine Combination in Hypertensive Patients in Indonesia”, Prof. Dr. Jose Roesma, Ph.D, Sp.PD-KGH. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 26 Oktober 2014 di Double Tree Hotel, Cikini, Jakarta Pusat, pukul 09. 30-12.35 WIB ini dibagi dalam 2 sesi yang diisi oleh 2 orang konsultan dari disiplin ilmu yang berbeda, yaitu DR. dr. Muhammad Yamin, Ph.D, Sp.JP (K), FACC,FSCAI dan dr. Djoko Wibisono, Sp.PD-KGH.

Gambar 1

Gambar 1. Prof. Dr. Jose Roesma, Phd, Sp.PD-KGH, moderator RTD yang mampu membuat suasana diskusi menjadi begitu interaktif.

 

Presentan sesi pertama, DR. dr. Muhammad Yamin, Sp.JP (K) memaparkan presentasi berjudul “Exploring Clinical Efficacy and Cardioprotective Benefit of ARB”, sedangkan dr. Djoko Wibisono, Sp.PD-KGH sebagai pembicara pamungkas mengetengahkan tema “Achieving BP Goal With Valsartan/Amlodipine Combination From Clinical Trial to Real World Experience”.

Sesi pertama dibuka dengan pertanyaan mengenai pilihan obat anti hipertensi yang tepat bagi ilustrasi kasus laki-laki usia 55 tahun dengan riwayat hipertensi dan diabetes mellitus selama 3 tahun yang mengeluhkan adanya dyspnoe on effort dalam 6 bulan terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya hipertensi stage 1 yaitu 145/95 mmHg. Pemeriksaan penunjang laboratorium menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal (ureum 62 dan kreatinin 1,9 serta proteinuria +) dan adanya gambaran concentric LVH, hipokinesis dinding anteroseptal jantung, serta penurunan ejection fraction (40 %) pada pemeriksaan echocardiogram. Pemilihan obat antihipertensi yang sesuai adalah sesuatu yang penting karena reduksi tekanan darah sistolik sebesar 2 mmHg dapat mengurangi resiko kejadian kardiovaskular 7-10%, baik berupa mortalitas akibat penyakit jantung iskemi maupun akibat stroke. Komorbiditas akibat hipertensi akan meningkat bila ada faktor penyulit seperti diabetes, dislipidemia, dan obesitas.

Tantangan pada tatalaksana hipertensi yang memiliki prevalensi sebesar 31 % di seluruh dunia ini adalah untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan, bersumber dari berbagai hal seperti compliance pasien, efek samping dan keamanan obat, faktor komorbiditas, efikasi terapi, serta faktor cost effectiveness. Hipertensi merupakan penyebab mortalitas utama secara global, dengan insiden yang terus meningkat, sedangkan jumlah pasien yang mampu mencapai target tekanan darah yang optimal masih rendah sekali. Kurang lebih 70% pasien belum dapat mencapai tekanan darah sesuai target, bahkan kurang dari 50 % pasien hipertensi di Amerika Serikat dan sekitar 66-75 % pasien di Kanada dan Eropa belum mendapat terapi hipertensi. Di negara berkembang sendiri, kemampuan mengendalikan tekanan darah hanya 20%.

gambar 2

Gambar 2. Penyegaran mengenai patofisiologi hipertensi oleh DR. dr. M. Yamin, Ph.D, Sp.JP (K), FACC, FSCAI

 

Oleh karena itu, paradigma pemilihan obat-obat anti hipertensi saat ini mulai bergeser, tidak hanya sebatas pada efek penurunan tekanan darah, namun juga mencari efek pleotropik berupa efek kardioproteksi. Efek-efek tersebut antara lain penurunan tekanan darah, penurunan resiko stroke dan gagal jantung serta disfungsi renal, pencegahan penyakit jantung koroner, dan pengendalian kadar gula darah. Intervensi dini hipertensi sebagai salah satu resiko atherosklerosis terkait proses aging merupakan upaya yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya iskemia dan infark jantung yang bisa berakhir dengan penurunan kerja jantung. Hal ini secara otomatis juga akan menurunkan biaya yang diperlukan untuk revaskularisasi (PCI dan surgery) serta terapi anti platelet, karena semakin lambat kita melakukan intervensi terhadap hipertensi, maka semakin tinggi biaya yang diperlukan dan semakin kompleks pulalah tatalaksananya.

Di antara berbagai pilihan obat anti hipertensi, maka valsartan dari golongan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dan amlodipin dari golongan Calcium Channel Blocker (CCB) adalah jenis obat yang bila dikombinasikan memiliki keunggulan dibandingkan kombinasi lainnya, karena menurut literatur terdapat bukti kuat bahwa kedua obat ini mampu menurunkan penanda inflamasi seperti High Sensitivity C Reactive Protein (hs-CRP), adiponektin, dan Homeostasis Model Assessment-Estimated Insulin Resistance (HOMA-IR).

Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor merupakan terapi utama yang digunakan pada pasien pasca infark miokardium, dengan efektivitas yang sama dengan valsartan. Meski demikian, bila dibandingkan dengan amlodipine, valsartan memiliki kelebihan dalam hal penurunan resiko new onset diabetes mellitus berdasarkan penelitian VALUE (Valsartan Antihypertensive Long Term Use Evaluation) oleh Kjeldsen et al. Selain itu valsartan juga dapat menurunkan resiko morbiditas dan mortalitas pasien gagal jantung.

Lebih lanjut, dalam sesi kedua, dr. Djoko Wibisono, Sp.PD-KGH mengulas permasalahan penggunaan obat kombinasi tunggal hipertensi, yang prevalensinya di Indonesia masih tinggi (31%) dan merupakan masalah multimekanisme (>80% disertai ≥2 komorbiditas). Obat kombinasi tunggal valsartan-amlodipin yang menjadi topik bahasan kali ini, memiliki kelebihan dalam hal kepatuhan pasien meminum obat (compliance) dibandingkan dengan kombinasi bebas. Penelitian Destro et al juga mengungkapkan kelebihan efikasi kombinasi ini dibandingkan dengan monoterapi amlodipin dalam penurunan tekanan darah pasien-pasien resiko tinggi seperti usia lanjut, isolated systolic hypertension, hipertensi berat (tekanan sistolik ≥ 180 mmHg, obesitas, dan diabetes). Selain itu Materson et al juga mengungkapkan kekurangan penggunaan monoterapi pada hipertensi karena mudahnya terjadi resistensi pada hipertensi. Kombinasi 2 macam obat juga lebih baik dibandingkan monoterapi dengan dosis 2 kali lipat dosis standar dalam hal mengurangi efek samping obat. Pencapaian target penurunan tekanan darah pasien non diabetik juga dinilai bermakna berdasarkan penelitian Allermann et al, karena 9 dari 10 pasien hipertensi dapat mencapai target tekanan darah <140/90 mmHg, demikian pula pada pasien diabetik. 5 dari 10 pasien hipertensi dapat mencapai target tekanan darah <130/80 mmHg. Hasil penelitian di dunia ini juga sesuai dengan penelitian MAX FORCE dan EXCITE yang melibatkan hampir dari 1000 pasien di Indonesia. Penelitian MAX FORCE menunjukkan bahwa pasien hipertensi esensial yang resisten terhadap obat tunggal amlodipin, bila dilakukan perubahan terapi kombinasi valsartan-amlodipin, menunjukan perbaikan tekanan darah dan dapat mencapai target tekanan darah dengan efektivitas, keamanan, dan tolerabilitas yang baik.

gambar 3

Gambar 3. Dr. Djoko Wibisono, Sp.PD-KGH yang mengerucutkan pembahasan efektivitas penggunaan obat kombinasi hipertensi berdasarkan literatur populasi pasien di dunia pada pasien di Indonesia.

 

Setiap sesi diselingi dengan diskusi interaktif antar peserta yang sebagian besar merupakan dokter-dokter dari Rumah Sakit beberapa daerah di Jakarta. Akhirnya, diskusi yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini ditutup dengan kesimpulan bahwa target pancapaian hipertensi memerlukan kerjasama yang baik antara dokter dengan pasien, karena target tersebut dapat tercapai bukan hanya semata-mata akibat obat anti hipertensi yang mumpuni, melainkan juga dari modifikasi gaya hidup (lifestyle) seperti diet rendah garam, olahraga rutin minimal 3 kali seminggu selama 30 menit, serta menghentikan kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak baik untuk kesehatan seperti merokok maupun konsumsi makanan tinggi lemak dan berindeks glikemik tinggi. Hal ini sangat penting mengingat hipertensi, obesitas, diabetes mellitus, serta dyslipidemia merupakan kelompok sindrom metabolik yang dikenal sebagai deadly quartet karena efek morbiditas dan mortalitasnya yang tidaklah sepele.

Topics:

Posted: November 7, 2014 at 11:34 am, Last Updated: November 7, 2014 at 11:35 am

Add a Comment

  • Hubungi Kami
    admin@kardioipdrscm.com
    Telp. +62 (21) 31934636
    Fax.
    +62 (21) 3161467
    Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta 10430