Workshop Rotablator: Teknik Pengeboran Kerak dalam Pembuluh Darah

Ditulis oleh: pada tanggal Berita dan Informasi

Workshop Rotablator: Teknik Pengeboran Kerak dalam Pembuluh DarahJakarta, 27 Maret 2013 — Rotational atherectomy devices, atau lebih dikenal dengan rotablator, merupakan suatu teknologi yang tergolong baru dalam dunia kardiologi intervensi, karena baru ditemukan dan dikenal pada akhir abad ke-20. Sumbatan (stenosis) pembuluh darah jantung (koroner) dapat lunak atau mengeras seperti batu karang. Rotablator merupakan suatu alat yang digunakan untuk ‘mengikis’ timbunan kapur atau kalsifikasi yang sangat keras dan sulit dipecahkan dengan balon. Alat ini juga berfungsi untuk mempermudah penempatan cincin penyanggah (stent/ring) pada lokasi sumbatan.

 

Prosedur rotablator didahului dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah jantung melalui pembuluh darah tangan atau kaki. Setelah mencapai daerah yang mengalami penyumbatan, bagian ujung (yang berbentuk bola-elips) akan ‘mengebor’ kerak yang menyumbat pembuluh darah. Prosedur ini dapat dilakukan sebagai bagian dari penanganan penyakit jantung koroner pada kasus yang sulit untuk dilakukan tindakan percutaneus coronary intervention (PCI) biasa, yaitu sumbatan dengan beban kerak yang terlalu banyak dan panjang, atau sumbatan pada percabangan atau cabang utama kiri (left main stem). Secara umum rotablator diperlukan pada sekitar 2-5% dari total tindakan PCI.

 

Namun sayangnya, sampai saat ini keunggulan yang dimiliki rotablator masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Selain prosedur yang dianggap cukup sulit dan kompleks, keraguan dan keengganan untuk melakukan teknik ini diakui para dokterjuga disebabkan oleh minimnya fasilitas yang tersedia, serta mahalnya biaya yang harus dikeluarkan pasien. Beberapa alasan inilah yang menyebabkan pemakaian rotablator belum banyak dikenal dan diaplikasikan pada masyarakat.

 

Unit Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) RS Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM) sendiri telah memiliki fasilitas rotablator sejak satu tahun yang lalu. Untuk meningkatkan keahlian dalam pemanfaatan teknologi rotablator, operator dan tim harus mengikuti kursus penyegaran (proctorship) untuk bisa mengasah kembali keterampilan yang pernah didapat. Kesempatan ini terpenuhi pada hari Rabu, 27 Maret 2013. Tim intervensi dari Divisi Kardiologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM bekerja sama dengan PJT RSUPNCM mengadakan workshop rotablator dengan mengundang ahli kardiologi intervensi, Dr. dr. Muhammad Munawar, SpJP(K), PhD, FIHA, FACC, FESC, dari Rumah Sakit Bina Waluya, Jakarta.

 

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar dua puluh dokter peserta program fellow kardiologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam dan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. Penyajian materi diawali dengan kuliah mengenai perkembangan dan aplikasi rotablator dalam terapi intervensi penyakit aterosklerosis dan ditutup dengan live demo di ruang kateterisasi jantung PJT RSCM. Tindakan yang dipimpin oleh Dr. dr. Muhammad Munawar, SpJP(K), PhD, FIHA, FACC, FESC ini berhasil dilakukan pada seorang penderita penyakit jantung koroner.

 

Para peserta workshop sangat antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir. Sebagian besar mengungkapkan harapannya agar acara seperti ini dapat diselenggarakan secara rutin untuk meningkatkan kualitas penanganan intervensi pada penyakit jantung koroner oleh tim medis terkait.

 

Foto: dok. pribadi, phc.org.au

Topics:

Posted: April 23, 2013 at 11:38 pm, Last Updated: January 7, 2016 at 7:26 am

  • Hubungi Kami
    admin@kardioipdrscm.com
    Telp. +62 (21) 31934636
    Fax.
    +62 (21) 3161467
    Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta 10430