Nyeri dada: Kapan harus waspada?

Ditulis oleh: pada tanggal Artikel, Informasi Penyakit, Umum

nyeri dada kapan harus waspadaSalah satu gejala khas dari penyakit jantung koroner (PJK) adalah nyeri dada. Oleh karena itu, keluhan nyeri dada ini telah lama menjadi momok nomor satu di masyarakat, sekaligus alasan utama yang membawa seseorang datang ke dokter. Namun apakah benar nyeri dada selalu merupakan pertanda seseorang terkena PJK? Setelah membaca artikel ini, kami berharap Anda dapat memperoleh informasi yang bermanfaat dan dapat Anda bagikan kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.

Pernyataan bahwa ‘nyeri selalu berhubungan dengan penyakit jantung koroner” adalah kurang tepat. Keluhan ini tidak selalu berkaitan dengan jantung. Meskipun demikian, keluhan ini tidak boleh dianggap remeh begitu saja, karena taruhannya adalah nyawa. Namun sayangnya, keluhan ini bersifat subyektif sehingga rasa sakit hebat yang dirasakan seseorang belum tentu sama, bahkan dapat terjadi keluhan nyeri dada tersebut hanya terasa sebagai sesuatu yang tidak nyaman bagi orang lain.

Lalu, kapan saya harus waspada bila mengalami nyeri dada?

Nyeri dada dapat muncul hanya sesekali saja dalam waktu singkat sehingga seringkali tidak disadari, tetapi ada juga yang muncul terus-menerus dan dalam waktu yang cukup lama. Nyeri dada dapat disebabkan oleh banyak faktor, yang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu penyebab jantung dan bukan jantung.

Apabila nyeri dada yang muncul semakin lama semakin berat, lebih dari 15 menit ketika sedang melakukan aktivitas, meskipun nyeri dada tersebut dapat juga timbul saat istirahat, disertai keluhan sesak nafas, berkeringat, menjalar ke lengan, rahang, leher sebaiknya kita curigai sebagai masalah jantung maka dari itu seyogyanya kita cepat mendatangi instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan pelayanan yang optimal. Penyebab tersering ialah angina pektoris yang merupakan suatu kondisi sesak dada karena otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen.

Masalah jantung lain yang menyebabkan nyeri dada antara lain kelainan katup jantung seperti stenosis aorta, gangguan irama jantung dan peradangan pada selaput pembungkus jantung (perikarditis) dan otot jantung (miokarditis).

Kemungkinan penyebab bukan jantung dalam menghadapi keluhan nyeri dada adalah bila nyeri dada dirasakan sebagai suatu sensasi terbakar atau rasa panas pada daerah dada, disertai rasa asam yang naik ke kerongkongan, mulut terasa pahit, dan sering mengalami radang tenggorokan. Kumpulan gejala ini sesuai dengan penyakit yang dinamakan gastrooesophageal reflux disease (GERD).

Manifestasi lain nyeri dada juga dapat disebabkan keluhan otot atau tulang (muskuloskeletal) yang disebut penyakit kostokondritis, patah tulang iga, atau metastasis kanker.

Masalah psikis juga bisa bermanifestasi nyeri dada yakni kondisi cemas berlebihan. Mekanismenya ialah melalui hiperaktivitas sistem saraf otonom yang akan membuat tubuh merespon dengan gejala-gejala fisik yang dikenal dengan istilah keluhan psikosomatis.

Masalah paru juga dapat bermanifestasi nyeri dada yaitu bila timbul cairan di paru-paru pasien. Keluhan nyeri dada timbul saat menarik nafas, kelainan ini dikenal sebagai pleuritis. Penyebab lain nyeri dada karena masalah paru ialah emboli paru, pneumotoraks, dan infeksi paru.

Penyakit pembuluh darahutama seperti stenosis aorta, aneurisma aorta dan diseksi aorta juga memberikan keluhan nyeri dada, akan tetapi memerlukan tindak lanjut pemeriksaan untuk memastikan diagnosisnya, seperti echocardiography dan MSCT scan thoraks.

About the author

Birry Karim

Board Certification: Medical Doctor, Faculty of Medicine, Universitas Tarumanagara Internal Medicine, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia

Topics:

Posted: March 14, 2013 at 7:13 am, Last Updated: February 17, 2016 at 2:38 pm

Add a Comment

  • Hubungi Kami
    admin@kardioipdrscm.com
    Telp. +62 (21) 31934636
    Fax.
    +62 (21) 3161467
    Jl. Diponegoro No. 71 Jakarta 10430